Kau Adalah Subjek Utama Ku

Headline

Kau Adalah Subjek Utama Ku

Kau Adalah Subjek Utama Ku

Kau Adalah Subjek Utama Ku 

Photos by Nia Putri Wulandari

Ini adalah secuil cerita saat aku mengenal sosok Tuan yang sampai saat ini menjadi subjek utama di setiap bait bait aksara yang aku tulis.

*******

Saat pertama kali aku mengenalmu aku tidak mengira kamu akan menjadi seorang yang sangat spesial bagiku, aku mengenalmu benar benar secara tidak sengaja. Bahkan aku hanya berpikir bahwa kita hanya akan ada perkenalan secara singkat, setelah itu kembali berjalan sendiri-sendiri yang tujuannya entah kemana. 

Tapi kita berhasil melewati hampir 2 tahun bersama, walau hanya sebatas friendship. 

Di setengah tahun yang lalu aku merasa bahwa sosok kamulah yang selama ini aku cari. Sungguh kamu adalah pria yang berbeda dari pria yang selama ini aku kenal, sikapmu begitu manis sampai bisa melekat pada hatiku.

Iyah, aku jatuh cinta. Jatuh cinta padamu Tuan, sebelumnya aku sempat berpikir apakah aku benar-benar mencintai mu? 

Berbulan-bulan aku selalu memikirkan tentang hal itu, sampai tiba dimana aku yakin pada hatiku bahwa aku benar-benar mencintai mu.

Tapi aku harus memendam perasaan itu selama berhari-hari, aku tidak berani memberitahukannya padamu karena aku takut. Aku takut pertemanan kita akan berakhir setelah kamu tahu bahwa aku mempunyai perasaan lebih padamu, aku takut jika kau akan memaki maki diriku.

Sungguh Tuan, aku hanya gadis malang yang tidak berani untuk mengungkapkan perasaan. Aku hanya bisa mengadu pada Rabb ku saat di sepertiga malam, sambil mengangkat kedua tanganku untuk memintamu dalam tadah ku. Cukup Allah saja yang tahu betapa aku sangat menginginkan mu untuk menjadi milikku.


*** *** ***


Di hari hari berikutnya, aku tidak tahan untuk menahan perasaan ini lagi. Aku tidak sanggup membawanya lagi, aku tidak sanggup menampungnya lagi, dan aku bertekad untuk mengungkapkannya padamu tanpa berpikir konsekwensinya.

Dan akhirnya aku mengatakan perasaan ku padamu, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa aku menyukaimu. Kira kira seperti ini "Tuan, sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan jatuh cinta padamu. Tapi kamu telah membuatku jatuh cinta padamu, aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini. Tapi aku tidak sanggup lagi menahan perasaan yang ada dalam hatiku. Aku tidak memintamu untuk menjadi kekasihku, dan aku tidak mengharapkan kamu membalas perasaanku. Aku berani mengatakan hal ini karena sebelumnya aku pernah bertanya padamu sebelum kamu pergi ke asrama. Apakah kamu masih ingat? Aku pernah mengatakan bahwa aku merasa nyaman dengan mu, dan kamu pun juga demikian. Sungguh aku luluh dengan sikapmu, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu. Setidaknya aku sudah tidak menampung beban perasaan ini lagi"

Iyah, kira kira seperti itu yang aku katakan padanya. Lalu dia merespon dengan baik, dia bertanya kenapa aku mencintainya, dia juga mengatakan bahwa kami terlalu muda untuk ini hahaha, karena aku masih duduk di sekolah menengah pertama pada saat itu, sedangkan dia masih kuliah.

Bagaimana aku tidak semakin suka padamu, sedangkan kamu membantuku dalam mengerjakan tugas sekolahku. Dia sangat menghargai perasaan yang sudah aku utarakan dan dia mengatakan kami masih terlalu muda untuk hal ini, bahkan kami belum benar-benar paham apa itu cinta yang sebenarnya.

Sebelum aku mengutarakan isi hatiku kita memang sudah mempunyai komitmen sebelumnya, saat dia berpamitan akan pergi ke asrama kami berdua membuat komitmen bersama. Mungkin dia menganggap komitmen pertemanan dan aku juga berpikir demikian, tapi seiring berjalannya waktu terkadang aku menginginkan kata lebih dari kata teman.

Aku berpikir lagi, apakah ini cinta atau hanya nafsu semata. Aku takut, cinta yang seharusnya suci, bersih menjadi kotor.

Dan baiklah, aku akan mundur, aku akan mendelete semua perasaanku padamu. Karena aku tidak ingin mengotori hatiku.

Biarlah kita menjalani pertemanan yang seharusnya, tanpa membawa perasaan apa apa. Tapi rencana tidak sesuai dengan kehidupan nyata, aku diam tanpa mengatakan apa apa. Tapi aku senang, setidaknya kamu masih bersamaku.


*** *** ***


Beberapa saat kemudian kamu berpamitan padaku untuk kembali ke asrama karena peraturan di perkuliahan mu. Kita kembali berkomunikasi lewat email selama beberapa bulan, satu minggu sekali kamu mengirim pesan email padaku. Aku begitu excited menunggu dan membaca pesan email darimu, kamu mengatakan akan kembali berkomunikasi dengan ku di whatsapp jika kamu sudah pulang dari asrama nanti.

Tapi,, ada hari dimana kamu tidak mengirimku pesan email padaku. Aku khawatir dan merasa takut kalau aku akan kehilanganmu, saat kamu tidak pernah mengirim pesan email padaku aku selalu mengirimmu pesan email setiap hari tanpa kamu membalasnya, moment itu begitu menyedihkan bagiku.

Di bulan bulan berikutnya aku tidak sesering dulu untuk mengirim pesan email padamu, bahkan pernah tidak sama sekali. Aku hanya ingin terbiasa tanpamu, bahkan saat esok pagi adalah hari ulang tahunku aku memikirkan mu. Aku membayangkan kamu adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk ku.

Aku memandangi ponselku pada malam itu berharap ada notifikasi darimu. Tanpa aku sadari aku tertidur hingga pagi, semua orang yang dirumah sudah mengucapkan selamat ulang tahun padaku kecuali kamu!

Saat aku membuka ponsel dan memencet icon whatsapp, aku melihat nomor asing yang mengirimku pesan.

Saat aku membukanya, aku begitu terkejut. Ternyata itu kamu, kamu mengirimku pesan di whatsapp dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan do'a do'a baik mu untuk ku di jam 00.00 malam.

Aku sangat senang sekali membaca spam pesan yang kau kirimkan padaku. Lalu kita mengobrol di telpon, berbincang-bincang tentang keadaan kita sampai siang. 

Padahal jika di Indonesia sedang siang di Amerika sudah malam. Kita memang terhalang oleh jarak, kita terpisah oleh ribuan kota. Bahkan waktu pun berbeda, walaupun demikian kita sama hahahaha kita satu frekuensi.

Saat di telpon kamu pun berpamitan kembali di asrama bahwa kamu akan menonaktifkan whatsapp mu lagi. Seketika bahagiaku itu hanya sekilas, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Tuan?? 

Tiba-tiba kamu pergi dan tiba tiba kamu kembali!

Awal kepergianmu memang membuatku merasa sepi, orang yang selalu mengirimkan ku pesan, mengobrol lewat panggilan hingga larut malam. Kini aku hanya bisa diam dalam kerinduan, hari hari ku tanpamu selalu ku lalui, bahkan bulan telah berganti kau masih belum kembali. Aku selalu setia menunggumu sampai kita bertemu.

Ada di suatu keadaan yang membuatku untuk mengikhlaskan mu. Aku sudah tak ingin membuang waktu ku sia sia, mungkin aku bodoh karena memperjuangkan orang yang tidak pasti. Sungguh Tuan, aku belum pernah mencintai seseorang sedalam ini. Aku selalu menyibukkan waktuku supaya aku bisa mengalihkan pemikiran ku padamu.

Disaat aku sudah berhasil melewati situasi itu, situasi dimana aku sudah hampir berhasil untuk tidak mengharapkan mu lagi, justru malah kamu kembali!!

Aku merasa sangat senang sekaligus kesal. Kenapa kau hadir disaat aku sudah terbiasa tanpamu? Aku pikir kau sudah melupakan ku, bahkan aku berfikir kau sudah menemukan orang baru, pengganti diriku.

Saat kau kembali, aku menyambut mu tanpa memandang kesalahan mu. Aku masih memegang janji janji yang kau katakan padaku, bahwa kau akan kembali. Untuk terakhir kalinya aku berpikir, apakah kau akan selalu bersamaku untuk selamanya. Apakah kau akan meninggalkan ku lagi untuk kesekian kalinya?

Aku pikir kau sudah berubah, dengan mengatakan "maaf", aku pikir kau kembali dengan versi terbaikmu saat kembali padaku. Ternyata aku salah, saat kau kembali padaku justru aku seperti tidak mengenalimu. Dimanakah dirimu yang dulu? Apakah ada yang salah denganku? Atau kamu benar-benar sudah menemukan pengganti ku? Sampai sampai kamu sudah tidak membutuhkan ku lagi?


*** *** ***


Beberapa hari setelah kau kembali dengan karakter asing yang tidak ku kenali sama sekali, aku merasa kamu telah menyembunyikan sesuatu dariku. Apakah kamu tahu? Selama ini aku menunggu kedatangan mu, selama ini aku lelah menunggu mu, aku lelah berjuang sendiri.

Bisakah kau mengajariku cara menunggumu dengan sabar? Agar aku tahu manis di penghujung nya. 

Tapi aku lelah menantimu tanpa kabar, yang semakin hari kepercayaan ini semakin memudar, kini aku sadar, bahwa aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu. Mungkin sekarang aku sedang berada di titik terlelah mencintaimu, dan memohon kepada Tuhan, namun bukan lagi untuk memiliki. Melainkan agar Tuhan melampangkan hatiku untuk mengikhlaskan mu pergi.


Bionarasi Penulis:

Nia Putri Wulandari, lahir di Purbalingga pada 5 September 2006. Ia sedang mendalami dunia kepenulisan, karena menulis juga salah satu hobinya untuk meluah kan keluh kesahnya, dan karya sebelumnya juga pernah di buku kan di beberapa penerbit lain. Pembaca juga dapat berinteraksi dengan penulis melalui sosial media pribadinya.

Instagram: @_nniaputri

E-mail: niaputriwulandari1@gmail.com

WhatsApp: -

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel